Teknologi Inseminasi Buatan Tingkatkan Kualitas dan Produksi Ternak Babi

  • Whatsapp
INDUKAN- Komisi B DPRD Mimika bersama Disnak&Keswan Mimika melihat indukan babi di UPT Pembibitan Ternak Babi di SP 7, Rabu (16/03/2022). (FOTO: SIANTURI/POJOKPAPUA.COM)

TIMIKA- Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan Ternak Babi, yang terletak di Kampung Mulia Kencana, SP 7 masih membutuhkan sarana dan prasarana tambahan demi meningkatkan produktivitas bibit ternak babi.

Hal tersebut terungkap pada kunjungan kerja Komisi B DPRD Mimika dipimpin Ketua Rizal Para’dan, ST, Rabu (16/03/2022).

Di lokasi yang menjadi sentra Inseminasi Buatan (IB) khusus ternak babi ini, memang tampak sejumlah kandang yang kosong. Serta peralatan pendukung lainnya yang memerlukan perbaikan.

Di UPT yang dikelola Disnak dan Keswan ini, saat ini terdapat 24 induk babi dari 5 jenis.

Babi ini secara berkesinambungan sudah di inseminasi buatan, artinya masuknya sel jantan dengan bantuan manusia, setelah melewati berbagai pengujian.

“Indukan ini bakal mulai beranak pada April mendatang secara bergelombang. Kalau serentak kita bisa repot merawat dan bisa kekurangan tempat,”jelas Kepala UPT, Yordan Ola kepada Pojokpapua.com.

Pada kunjungan ini, para Anggota Komisi B seperti Rizal Pata’dan, Mery Pongutan, Tanzil Azharie.

Azharie, Anthon Pali, M Nurman Karupukaro serta Uwe Yanengga mengamati lokasi UPT tersebut dan berdiskusi dengan para pegawainya.

Anggota Komisi B DPRD Mimika, M Nurman Karupukaro usai kunjungan menjelaskan, Disnak Keswan diharapkan bisa lebih memaksimalkan peran dalam penyediaan bibit ternak babi bagi masyarakat.

Demikian juga soal perbaikan infrastruktur agar proses pembibitan semakin baik.

“Ini bicara soal market kepada masyarakat lokal beberapa hal harus diperhatikan. Seperti kualitas bibit dan penggunaan teknologi,”ujarnya.

Menurut Nurman, secara kualitas produksi masyarakat lebih diminati. Sehingga dinas harus lebih memaksimalkan produksi.

Juga dari sisi kesempurnaan babi. Di mana kalau dari UPT ekor dan gigi sudah dipotong. Padahal masyarakat butuh yang lengkap. Demikian juga soal ketebalan lemak, milik masyarakat lebih diminati.

“Tidak masalah kita pakai teknologi. Tapi kita harus sesuaikan dengan minat dan kebutuhan masyarakat,”jelas Nurman.

Sementara itu, Matius Uwe Yanengga meminta pemerintah lebih terbuka dalam mensosialisasikan teknologi kepada masyarakat. Mimika katanya jadi daerah penyangga bagi daerah di Pegunungan Tengah Papua.

“Mayoritas konsumsi daging sehingga produksi dengan manfaatkan teknologi harus lebih ditingkatkan,” tegasnya.

Menurutnya sosialisasi kepada masyarakat harua ditingkatan. Demikian juga dananya harus dianggarkan kepada para peternak.

“Pola lama harus ditinggalkan karena lewat inseminasi buatan babi bisa beranak sampai 16 ekor,”terangnya.

Dari pola lama ditinggalkan. Contoh inseminasi buatanm anak sampai 16 ekor.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Disnak & Keswan Mimika, Agustinus didampingi Kepala UPT Pembibitan Ternak Babi, Yordan Ola menjelaskan bahwa saat ini, UPT memiliki indukan 24 ekor, anakan 20 ekor. Bakalan jadi induk pejantan 4 dan sudah jadi pejantan 3 ekor.

Inseminasi buatan katanya sudah dilakukan pada banyak tempat. Hanya saja memang banyak proses yang harus dilalui.

“Cuma memang harus tahu sifat birahi indukan. Saat kelamin sudah bengkak dan merah segera hubungi ke UPT agar segera disuntik.

“Rata-rata jumlah anak babi di atas 10 ekor sekali suntik,” jelasnya.

Di UPT sendiri tarif sekali suntik Rp 150 ribu. Namun disesuaikan lagi dengan jarak sehingga bisa sampai Rp 400 ribu.

Soal ekor dan gigi babi yang dipotong menurutnya agar tidak mengganggu.

“Kalau gigi mesti dipotong agar saat menyusui tidak melukai induk. Sedangkan ekor kenapa dipotong agar sesudah besar kelihatan lebih menarik.

Perkawinan silang tambahnya akan memperbaiki genetik babi, sehingga pertumbuhan lebih baik.

Dinas berharap usulan ke DPRD bisa aloksikan sesuai prioritas. Seperti penambahan bibit serta sarana-sarana pendukung lain. (*)

Penulis: Sampe Sianturi
Editor: Maftukin
  • Whatsapp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.